Perhitungan hari dan jam Ibrani purba didasarkan pada perputaran bumi pada porosnya. Bentuk riilnya, mereka menghitung hari berdasarkan selang waktu antar 2 matahari terbenam, yaitu dari sekitar jam 6 sore sampai jam 6 sore lagi menurut perhitungan waktu Indonesia modern. Hal ini tidak menjadi masalah ketika gerak semu matahari melintasi bumi dari terbit di timur sampai tenggelam di barat berlangsung selama 12 jam. Bagaimana bila matahari tenggelam lebih lama atau lebih singkat dari 12 jama? Ini pasti terjadi karena tanah Palestina berada di daerah sub tropis. Apakah ini membuat hari Ibrani purba jadi lebih lama atau lebih singkat dari hari normal? Pada masa-masa demikian, digunakan perhitungan khusus, yaitu interval suatu bintang melintasi garis bujur langit sampai melintasi garis bujur langit yang sama. Khusus untuk hari Sabat, akhir hari Sabat harus menunggu matahari terbenam pada musim apapun, sehingga hari Sabat dapat berlangsung lebih singkat maupun lebih panjang.

Dengan menggunakan perhitungan-perhitungan tersebut, masyarakat Ibrani purba ini secara konsisten tetap membagi hari menjadi malam dan siang, dan bukannya siang dan malam. Masing-masing kemudian dibagi menjadi 12 jam. Awal hari dimulai jam 18:00 bila dihitung dengan cara hitung Indonesia modern, atau jam 12 bila dihitung menurut cara hitung Ibrani purba. Perbandingan jam antara kedua perhitungan tersebut dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

Selanjutnya, malam hari (night) yang terdiri dari 12 jam itu dibagi lagi menjadi 4 jam jaga, yaitu:

  1. jam jaga pertama (jam 18.00-21.00), disebut juga waktu Petang (evening).
  2. jam jaga kedua (jam 21:00 – 24:00/ 00:00), disebut juga waktu Tengah Malam (midnight)
  3. jam jaga ketiga (jam 24:00/00:00 – 03:00), disebut juga waktu Ayam Berkokok (cock crowing)
  4. jam jaga keempat (jam 03:00 – 06:00), disebut juga waktu Pagi (morning).

Contoh ayat yang menyebutkan 4 jenis waktu malam itu adalah

  1. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga.
  2. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, petang hari, atau tengah malam, atau waktu Ayam Berkokok, atau pagi (Injil, Markus 13:34-35)

Dengan mengetahui sistem perhitungan waktu ala Ibrani purba, maka kita tahu bahwa terdapat selisih waktu ¼ hari (6 jam) antara perhitungan hari Ibrani purba dan perhitungan waktu Indonesia modern.Selisih ini bukan selisih zona waktu, melainkan selisih sistem perhitungan waktu.

Untuk jelasnya, klik gambar berikut ini:

Misal, hari ini jam 18:01 waktu Indonesia modern disebut hari besok jam 00:01 waktu Ibrani Purba. Bagaimanapun juga, penyebutan waktu sampai rincian menit seperti itu bukanlah hal yang umum keseharian dalam cara hitung waktu masyarakat Ibrani purba itu, karena mereka tidak pula mengenal menit, meskipun perhitungan purba tersebut telah membagi 1 jam ke dalam 1080 bagian (halakim), mirip seperti cara hitung jam a la Indonesia modern yang membagi 1 jam ke dalam 60 menit (1 menit modern = 18 halakim Ibrani purba). Karena aspek konvensi budaya, masyarakat Ibrani purba akan menyebut jam X lebih Y atau jam X kurang Z dengan sebutan “sekitar jam X”. Ini sangatlah memungkinkan terjadi karena jauh sebelum kelahiran Isa Al Masih, masyarakat timur-tengah purba (termasuk Ibrani purba) telah mengenal bilangan bulat atau pembulatan, sebagaimana kita lihat dalam perhitungan umur nabi Ibrahim, perhitungan lama pemerintahan seorang raja, perhitungan berapa lama Isa Al Masih dalam kubur, dsb. Cara hitung waktu Ibrani purba inilah yang menyebabkan dalam banyak ayat Injil digunakan secara eksplisit sebutan “sekitar jam sekian” (diterjemahkan oleh penterjemah Alkitab dengan kata “kira-kira”; seyogyanya diterjemahkan dengan kata “sekitar”), meski ada juga yang menggunakan kata tersebut secara implisit (secara tersirat) dan diketahui dari konteksnya saja.

Sejumlah 7 hari Ibrani purba membentuk satu minggu. Satu minggu Ibrani purba dimulai setelah matahari tenggelam pada hari Sabat sebelumnya.

Hari Transliterasi Terjemahan Padanan dalam perhitungan Indonesia modern
יוֺם רִאשׁוֺו Yôm Rišôn Hari pertama Sabtu 18:00 atau setelah matahari terbenam – Minggu 18:00
יוֺם שֵׁנִי Yôm Šēnî Hari Kedua Minggu 18:00 – Senin 18:00
יוֺם שְׁלִישִׁי Yôm Šlîšî Hari Ketiga Senin 18:00 – Selasa 18:00
יוֺם רְבִיעִי Yôm Rəvî`î Hari Keempat Selasa 18:00 – Rabu 18:00
יוֺם חֲמִישִׁי Yôm Hámîšî Hari Kelima Rabu 18:00 – Kamis 18:00
יוֺם שִׁשִׁי Yôm Šiššî Hari Keenam Kamis 18:00 – Jumat 18:00
יוֺם שַׁבָּת Yôm Šabbāt Hari Istirahat Jumat 18:00 – Sabtu 18:00

Pengetahuan mengenai jam ini sangat penting dalam menginterpretasikan Alkitab, sebab bila tidak mempunyai pengetahuan ini, maka interpretasi kita terhadap Alkitab bakal jadi janggal, tidak nyambung, dan seolah-olah satu ayat berkontradiksi dengan yang lain.

Incoming search terms:

perhitungan waktu (2) zona waktu indonesia (2) alkitab cara hitung (1) perbedaan jam 24:00 dengan jam 00:00 (1) perbedaan jam waktu antara indonesia dengan (1) waktu evening dari jam? (1)