Bacaan : Lukas 20:27-28
Konon hanya ada 2 peristiwa besar dalam hidup seorang manusia, yaitu kelahiran dan kematian. Akan tetapi nuansanya pada umumnya berlawanan, kelahiran disambut dengan sukacita, sedangkan kematian seringkali dibayangi kesedihan dan kemuraman. Hal itu karena dengan kematian, maka kebiasaan sehari-hari yang biasanya bisa bertemu menjadi putus. Segalanya berubah.
Dalam bacaaan ini, Yesus berusaha dijebak oleh kelompok orang-orang Saduki dengan pertanyaan tentang kebangkitan orang mati. Orang-orang Saduki memang adalah golongan orang-orang yang tidak mempercayai adanya kebangkitan. Oleh karena itu mereka mengetes Yesus dengan mengajukan kasus yang kemungkinan besar hanya rekaan mereka mengenai seorang perempuan yang menikahi 7 orang laki-laki yang bersaudara secara berurutan karena tidak memiliki keturunan dari saudara yang lebih tua. Orang Saduki menunjuk pada Hukum Musa yang mengharuskan saudara laki-laki untuk menikahi janda saudaranya yang belum berketurunan. Pertanyaan orang Saduki adalah “Siapakahdiantara 7 orang laki-laki itu yang akan menjadi suami si perempuan di alam baka/sorga?” Jadi, orang Saduki ingin menyatakan kalau memang ada kebangkitan, maka akan ada keruwetan di alam sana dengan aturan yang ada.
Dengan cara khasnya yang sangat jitu, Yesus menjawab bahwa di alam sana keadaannya sangat berbeda dengan di bumi ini, jadi ada kebiasaan-kebiasaan di bumi ini tidak relevan di surga. Orang Saduki kesusahan memperluas logika pemikirannya yang sudah biasa diterapkan di dunia ini pada sorga.
Melalui bacaan ini, Yesus sekaligus menegaskan akan adanya kehidupan setelah kematian masing-masing orang di dunia ini. Setiap hari sabtu atau minggu kita juga menegaskan kembali kepercayaan ini dalam Syahadat yang kita ucapkan. Hidup di hadirat rahmat Allah, justru akan membuat persekutuan kita dengan Allah menjadi sempurna. Kita hidup di hadirat Allah, dengan kepenuhan kita.
Rasul Yohanes merekam bukti ilustrasi yang indah sekali tentang gambaran hubungan kita dengan Allah setelah kehidupan di dunia ini berlalu. Dalam Kitab Yohanes 14:1-2 dinyatakan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di Rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi kesitu untuk menyediakan tempat bagimu.” Rumah tinggal adalah gambaran tempat persekutuan dalam sebuah keluarga. Sewajarnya persekutuan yang indah tersebut dimulai dari dunia ini, sehingga kematian bukannya memutuskan persekutuan kita dengan Allah, akan tetapi justru menyempurnakannya. Tentunya situasi berbeda jika di dunia ini hidup kita mengingkari Allah dan bukannya bersekutu dengan erat bersama Allah. Itulah dosa, hidup yang jauh dari rahmat Allah. Dalam hal ini, tentu kematian menjadi sebuah kematian kekal, keterpisahan sempurna dari rahmat Allah.
Incoming search terms:
ilustrasi khotbah tentang tuhan yesus tak terpisahkan (1) kotbah menjadi sempurna (1)

