<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>Column &#187; Filsafat</title> <atom:link href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://www.mossackanme.web.id/column</link> <description>...a citizen journalism...</description> <lastBuildDate>Sun, 05 Jun 2011 13:20:41 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator> <xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /> <item><title>Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</title><link>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html#comments</comments> <pubDate>Sun, 15 Aug 2010 18:05:58 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Filsafat]]></category> <category><![CDATA[Abraham]]></category> <category><![CDATA[Alcuin]]></category> <category><![CDATA[Charlemagne]]></category> <category><![CDATA[golongan]]></category> <category><![CDATA[Manusia]]></category> <category><![CDATA[Menara Babel]]></category> <category><![CDATA[negara]]></category> <category><![CDATA[pemerintahan]]></category> <category><![CDATA[politis]]></category> <category><![CDATA[religiusitas]]></category> <category><![CDATA[sejarawan Inggris]]></category> <category><![CDATA[simbol]]></category> <category><![CDATA[surga]]></category> <category><![CDATA[talenta]]></category> <category><![CDATA[Tower of Babel]]></category> <category><![CDATA[TUHAN]]></category> <category><![CDATA[vox dei]]></category> <category><![CDATA[vox populi]]></category> <category><![CDATA[William of Malmesbury]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=258</guid> <description><![CDATA[Secara literasi, "vox populi" mempunyai arti "voice of the people," sedangkan "vox Dei" mempunyai arti "voice of God," dan selanjutnya menjadi sebuah nilai kearifan politis ketika disatukan dan dipergunakan untuk menyimbolkan kekuatan rakyat yang mencerminkan kehendak Tuhan atas suatu keputusan negara. Namun, apakah memang seperti itu?]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/William_of_Malmesbury">William of Malmesbury</a>, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah surat dari <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/Alcuin">Alcuin</a> kepada <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/Charlemagne">Charlemagne</a> pada akhir abad ke-8.</p><p><em>Vox populi</em> secara literasi mempunyai arti &#8220;<em>voice of the people</em>,&#8221; sedangkan <em>vox Dei</em> mempunyai arti &#8220;<em>voice of God</em>,&#8221; dan selanjutnya menjadi sebuah nilai kearifan politis ketika disatukan dan dipergunakan untuk menyimbolkan kekuatan rakyat yang mencerminkan kehendak Tuhan atas suatu keputusan negara. Namun, apakah memang seperti itu?<span id="more-258"></span></p><blockquote><p style="text-align: center;"><em>Vox populi, vox Dei</em><br /> <em>The voice of the people [is] the voice of God</em></p></blockquote><div class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://www.algearithm.web.id/illustration/350px-Confusion_of_Tongues.png" alt="The Confusion of Tongues by Gustave Doré (1865) Wikipedia" width="250" height="290" /><p class="wp-caption-text">The Confusion of Tongues by Gustave Doré (1865), from Wikipedia</p></div><p>Bercermin pada kenyataan masa lampau, ada sebuah kejadian yag melibatkan <em>populi</em> sebagai tokoh utama, yaitu <a href="http://www.mossackanme.web.id/leave?to=http://en.wikipedia.org/wiki/Tower_of_Babel"><em>Tower of Babel</em></a>. Disamping itu pada sebuah simbolisme dalam ajaran salah satu keyakinan Abrahamik, yaitu manusia mempunyai tugasnya masing-masing sebagai anggota dari Tubuh TUHAN.</p><p>Setiap manusia itu spesial, masing-masing merupakan orang biasa bagi dirinya sendiri, namun istimewa bagi orang lain. Keistimewaan masing-masing terletak pada talenta yang diberikan secara khusus, walau dengan kemiripan namun tak pasti sama, akhirnya melengkapi satu dengan yang lain. Ketika satu manusia bersatu dengan manusia lain, maka keistimewaan itu akan melebur. Satu dengan satu, dua ditambah satu, tiga ditambah satu, dan bertambah terus. Renungkan, ketika seluruh manusia bersatu, bagaimanakah hasil dari peleburan itu? Sebuah citra mahadahsyat akan muncul, sebuah kemampuan mahatinggi akan muncul, <em>Vox populi vox Dei</em> yang sebenarnya.</p><p>Ternyata, citra mahadahsyat tersebut merupakan perwujudan kenyataan dari simbolisme dalam ajaran tersebut. Ya, persatuan umat manusia adalah sebuah kesempurnaan Tuhan, dan ketika persatuan umat manusia itu terjadi, muncullah &#8220;Tuhan&#8221; lain. Dan kita tahu, Yang Tertinggi akhirnya menggagalkan rencana itu, lalu memecahbelah umat manusia menjadi bermacam bahasa, untuk mencegah munculnya &#8220;Tuhan&#8221; lain tersebut, yang berasal dari ego persatuan umat manusia.</p><blockquote><p style="text-align: left;"><em>And those people should not be listened to who keep saying the voice of the people is the voice of God, since the riotousness of the crowd is always very close to madness.</em></p><p style="text-align: right;">Alcuin (798 Masehi)</p></blockquote><p>Saat ini, kearifan politis dari frase tersebut ternyata menjadi senjata yang ampuh untuk menekan kekuasaan sebuah negara. Ironis, bahwa <em>vox populi</em> dalam sebuah negara dikendalikan oleh aliran informasi dari sumber yang itu-itu saja, walau melalui banyak orang. <em>Vox populi vox Dei</em> menjadi kabur artinya, dan memunculkan egoisme golongan. Dan banyak orang tidak sadar bahwa <em>vox populi vox Dei</em> adalah nilai seluruh manusia di bumi, bukan secuplik manusia di suatu negara, apalagi sekumpulan manusia dari golongan yang sama.</p><p>Ketika lambat laun cita-cita menyatukan umat manusia di bawah satu pemerintahan kembali muncul, banyak orang tidak sadar bahwa <em>Tower of Babel</em> telah memasuki episode baru. Menara Babel, dibungkus oleh kearifan lain yang memuaskan dahaga kemanusiaan. Ya, <span class="pullquote"><em>vox populi vox Dei</em> menemukan kembali bentuk aslinya, <em>vox populi vox Dei</em> lahir kembali dari rahim politis dan religiusitas golongan.</span></p><p>Lalu, apakah kita akan mengulangi lagi kesalahan masa lalu? Merasa bahwa persatuan umat manusia adalah sebuah tujuan suci, dengan tidak sadar bahwa ketika tujuan tersebut tercapai maka akan muncul &#8220;Tuhan&#8221; lain, <em>vox populi vox Dei</em>? Dengan cara seperti itukah manusia akan mencapai surga, atau malah itu jalan pintas menuju surga?</p><p>Dua pertanyaan terakhir:</p><blockquote><p>Siapakah perencana babak baru <em>Tower of Babel</em> ini?<br /> Siapakah yang berusaha membawa manusia untuk menyamai Tuhan?</p></blockquote><p>Sadarilah hal ini.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="vox populi vox dei">vox populi vox dei</a> (67)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="arti vox populi">arti vox populi</a> (6)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="pengertian vox populi vox dei">pengertian vox populi vox dei</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="arti vox pupuli vox dei">arti vox pupuli vox dei</a> (2)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="vox populi is vox dei">vox populi is vox dei</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="vox populi dan vox dei adalah">vox populi dan vox dei adalah</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="pengertian vox">pengertian vox</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="manusia istimewa dengan ketidaksempurnaan">manusia istimewa dengan ketidaksempurnaan</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" title="filosofi ketidaksempurnaan manusia">filosofi ketidaksempurnaan manusia</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html" rel="bookmark">Nyanyi Sunyi Putri Tiri</a></b><br />Bila Nabi Muhammad yang dinista, maka media massa dengan buas melahapnya. Para petinggi dan pesohor pun akan angkat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" rel="bookmark">TUHAN itu Ada Apa Ada-NYA</a></b><br />Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada "AKU" yang lebih besar dari diriku. Aku percaya TUHAN ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html" rel="bookmark">Indonesia, Menuju Orde terBaru</a></b><br />Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang ...</div></li></ol></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> </item> <item><title>TUHAN itu Ada Apa Ada-NYA</title><link>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 09 Jul 2010 06:35:14 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Filsafat]]></category> <category><![CDATA[agama]]></category> <category><![CDATA[Dunia]]></category> <category><![CDATA[Hidup]]></category> <category><![CDATA[Iblis]]></category> <category><![CDATA[Iman]]></category> <category><![CDATA[Kalangan]]></category> <category><![CDATA[Kepercayaan]]></category> <category><![CDATA[Lingkungan]]></category> <category><![CDATA[Malaikat]]></category> <category><![CDATA[Manusia]]></category> <category><![CDATA[Mati]]></category> <category><![CDATA[Pemahaman]]></category> <category><![CDATA[Perbedaan]]></category> <category><![CDATA[Persamaan]]></category> <category><![CDATA[Tembok]]></category> <category><![CDATA[TUHAN]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=157</guid> <description><![CDATA[Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada &#8220;AKU&#8221; yang lebih besar dari diriku. Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku melihat ketidakpastian dunia yang merupakan kenyataan akan apa yang diberikan-NYA pada manusia. Aku peduli pada TUHAN, bukan karena sekedar memanggil-NYA memakai HURUF BESAR, dan bukan karena aku meneriakkan nama-NYA, melainkan karena Diri-NYA adalah [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada &#8220;AKU&#8221; yang lebih besar dari diriku.<br /> Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku melihat ketidakpastian dunia yang merupakan kenyataan akan apa yang diberikan-NYA pada manusia.</p><p style="text-align: justify;">Aku peduli pada TUHAN, bukan karena sekedar memanggil-NYA memakai HURUF BESAR, dan bukan karena aku meneriakkan nama-NYA, melainkan karena Diri-NYA adalah Beliau, Ia dan Dia, Diri-NYA-lah Diri-NYA.</p><p style="text-align: justify;"><img style="margin-left:-16px;" src="http://www.algearithm.web.id/illustration/TUHANtu.gif" alt="" width="530" /></p><p style="text-align: justify;">Dia berkuasa, tetapi tetap membiarkan kita tumbuh dewasa dengan digembleng oleh lingkungan yang kita ciptakan sendiri.<br /> Kemandirian yang Beliau harapkan kepada kita, yang akhirnya juga membuat banyak orang bablas pada pemahaman dan kepercayaan mutlak pada diri sendiri.<span id="more-157"></span></p><p style="text-align: justify;">Dia berkuasa atas segalanya, tetapi memberi kesempatan kepada pilihan. Dia bisa, tetapi sayang-NYA kepada kita membuat Dia seperti berdiam diri.<br /> <span class="pullquote">Banyak orang gagal karena protes terhadap diamnya Diri-NYA, tapi aku percaya, bahwa diamnya Diri-NYA bukanlah diamnya kenyataan bahwa kitalah yang seharusnya berbuat, kitalah yang harus menjadi berkah bagi orang-orang yang kita ratapi keadaannya</span>, ironisnya hanya meratap tanpa berbuat sesuatu yang mantap.</p><p style="text-align: justify;">Dia mampu, Dia mau, tetapi Dia selalu memberi perbedaan kepada kita agar bisa menjadi suatu kesatuan tubuh yang utuh.<br /> Ironis bahwa kita menginginkan persamaan sekaligus membangun tembok ganda terhadap perbedaan: tembok agama sebagai kedok imani, dan tembok eksklusivitas kalangan sebagai tembok humani.</p><p style="text-align: justify;">TUHAN itu ada, dan akan selalu ada walau banyak protes terhadap Diri-NYA. Dan walau ketika mati kita tidak bertemu TUHAN, maka jangan kaget kalau sebenarnya kita sendiri yang selama hidup melarang Dia untuk bertemu dengan kita.<br /> TUHAN itu ada, dan akan selalu ada bagi malaikat untuk menuntun kita, dan bagi iblis untuk melindungi kita.<br /> TUHAN itu ada, benar-benar ada, karena aku pernah bertemu dengan-NYA.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="filsafat dengan tuhan">filsafat dengan tuhan</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html" title="koom filsafat">koom filsafat</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" rel="bookmark">Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</a></b><br />Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" rel="bookmark">Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</a></b><br />Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, William of Malmesbury, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/sosial-budaya/tak-ada-gadis-yang-tak-retak-renungan-kesucian-wanita.html" rel="bookmark">Tak Ada Gadis yang Tak Retak</a></b><br />Sebuah renungan akan apa yang disebut dengan kesucian Masih relevankah sebuah norma dalam kondisi dewasa ini. Ketika pertanyaan ...</div></li></ol></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/tuhan-itu-ada-apa-ada-nya.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>2</slash:comments> </item> <item><title>Kekuatan Rantai</title><link>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 17 Dec 2008 00:46:31 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Filsafat]]></category> <category><![CDATA[Mata Rantai]]></category> <category><![CDATA[Organisasi]]></category> <category><![CDATA[Proses Pembelajaran]]></category> <category><![CDATA[Sekolah]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/think/?p=14</guid> <description><![CDATA[Sebuah bangunan memiliki sistem kompleks. Sebuah organisasi membentuk divisi-divisi membawahi sub-tugas dari organisasi tersebut. Sekolah merupakan proses mencapai tatacara pemikiran yang fleksibel (kreatif). Analogi rantai berpengaruh!]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Rantai. Kita semua tahu apa itu rantai. Rantai adalah kesatuan dari bagian-bagian terpisah yang membentuk suatu ikatan berurutan/serial. Kita mengenal bagian-bagian tersebut sebagai &#8220;mata rantai.&#8221;</p><p>Sebagai permulaan, saya ajukan sebuah pertanyaan pada pembaca :</p><blockquote><h3>Dimanakah letak kekuatan dari sebuah rantai?</h3></blockquote><p>Diantara orang-orang yang juga saya ajukan pertanyaan tersebut, dari kalangan sosial menjawab &#8220;pada ikatannya&#8221;, sedangkan penjawab dari bidang teknik menilai &#8220;pada material rantainya.&#8221;<br /> Keduanya benar, juga memberitahukan penjabaran alasan yang -bagi saya- sangat menakjubkan. Kedua kalangan yang notabene bertolak belakang cara pandang itu memberikan penjabaran yang nyaris serupa walau jawaban singkatnya berbeda.</p><p>Namun, ada suatu nilai implisit yang dilupakan oleh mereka.Nilai yang sangat sering dilupakan dan hampir tidak pernah disentuh oleh kalangan psikolog sekalipun.</p><p><span id="more-14"></span>Bagi saya dan beberapa orang lain, kekuatan sebuah rantai terdapat pada &#8220;kekuatan mata rantai yang paling lemah!&#8221; Rantai, sebagai kesatuan/ikatan dari banyak bagian, akan memperoleh kekuatannya ketika setiap bagian dari rantai tersebut memiliki kekuatan yang tinggi dan setara. Jadi, rantai akan dinilai kuat dan memang terbukti kuat ketika tidak satupun dari mata rantai memberikan nilai minus pada keseluruhan bagian. Pendapat tersebut terbukti sedikitnya pada 3 obyek aplikasi, yaitu &#8220;bangunan&#8221;, &#8220;organisasi&#8221;, dan &#8220;sekolah.&#8221;</p><p>Yang pertama, bangunan. Sebuah bangunan memiliki sistem kompleks yang akan ditangani oleh banyak orang ketika bangunan itu dibangun. Ada sistem elektrik, konstruksi beton, sampai dengan sistem <em>parking</em>. Antar sistem tersebut pasti saling mempengaruhi sehingga outputnya akan berupa kinerja dari bangunan itu sendiri. Analogi rantai memberitahukan pada kita bahwa kinerja bangunan tersebut akan benar-benar terbukti baik jika setiap sistem di dalamnya menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi kerja yang tinggi dan menghasilkan kinerja yang baik. Jika ada satu saja sistem yang lemah, akan membiaskan efek pada sistem yang lain karena penurunan tingkat kenyamanan penggunaan bangunan sehingga penilaian terhadap kualitas bangunan sudah pasti menurun.</p><p>Yang kedua, organisasi. Sebuah organisasi akan alami membentuk divisi-divisi sendiri yang membawahi sub-tugas dari organisasi tersebut. Dalam penerapannya, sebuah organisasi akan dinilai baik jika dapat berprestasi memukau. Tetapi ada kesalahan dalam sikap penilaian semacam itu. Kesalahannya adalah tidak ada penilaian yang menyeluruh terhadap satuan-satuan kecil yang sebenarnya bekerja tidak maksimal. Jika penilaian prestasi dianggap 100%, mungkin jika nilai minus dri satuan-satuan tadi ditambahkan, 100% tadi akan turun drastis dan mungkin sekali menunjukkan angka dibawah 50%. Apa yang terjadi? Sekali lagi analogi rantai membawa kita pada pemahaman akan apa yang disebut &#8220;kinerja keseluruhan organisasi.&#8221; Organisasi tidak bagus jika hanya menunjukkan kebaikan sebagian saja. Organisasi akan mencapai puncak prestasinya ketika tidak ada divisi yang memberikan nilai minus dan terus berada pada level tertingginya.</p><p>Yang terakhir, sekolah. Sekolah merupakan proses/tahap seseorang dalam mencapai tatacara pemikiran yang fleksibel (kreatif). Karena disebut proses, maka di dalamnya terdapat banyak sekali langkah yang harus ditempuh menuju taraf tertinggi dari pembelajaran. Tahapan-tahapan tadi berikatan membentuk suatu rantai edukasi. Dengan demikian, seseorang akan mencapai &#8220;Buddha&#8221; jika dia melakukan tahap pembelajaran dengan sempurna. Perlu diingat bahwa sempurna buka berarti tidak gagal, karena pepatah mengatakan &#8220;<a href="http://kohutr.blogspot.com/2008/12/satu-langkah.html"><span class="pullquote">Bahkan seribu langkah keberhasilan dimulai dengan satu langkah kecil</span></a>.&#8221; Tetapi pada akhirnya, hasil akan berbicara, tetapi proses yang harus dinilai. Mata rantai yang dilalui setiap orang menuju kesempurnaan adalah hasil dari pencapaian kinerja yang tinggi pada setiap langkah pembelajaran yang dilalui.</p><p>Dari 3 obyek tersebut, analogi rantai memberikan &#8220;nilai yang sesungguhnya&#8221; pada setiap &#8220;sesuatu&#8221; yang terjadi. Untuk obyek lain, silahkan pembaca melakukannya terhadap kejadian yang ada di depan mata masing-masing. Sampai bertemu di <em>Phospor</em> yang lain, yang berusaha selalu menyala dalam gelap.</p><p>Salam.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="filosofi rantai">filosofi rantai</a> (16)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="kekuatan rantai">kekuatan rantai</a> (7)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="kekuatan rantai nilai">kekuatan rantai nilai</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="kekuatan rantai terdapat pada mata rantai yang lemah">kekuatan rantai terdapat pada mata rantai yang lemah</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="mengapa kinerja juga disebutproses menuju hasil">mengapa kinerja juga disebutproses menuju hasil</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="nilai filosofi dari rantai">nilai filosofi dari rantai</a> (1)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" title="rantai filosofi">rantai filosofi</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html" rel="bookmark">Konflik Matematika</a></b><br />Suatu saat saya mengalami kejadian menarik. Saat itu saya selesai memberikan evaluasi matakuliah kepada kumpulan guru STM mengenai ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/satrio-piningit-ke-7-jk2009-atau-prabowo2014.html" rel="bookmark">Satrio Piningit ke-7 : JK2009 atau Prabowo2014?</a></b><br />Pertanyaan tersebut tiba-tiba menyengat ke dalam otak saya, membangkitkan ingatan saya mengenai hal yang pernah saya baca di ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html" rel="bookmark">Indonesia, Menuju Orde terBaru</a></b><br />Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang ...</div></li></ol></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>4</slash:comments> </item> <item><title>Konflik Matematika</title><link>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 25 Nov 2008 05:51:28 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Filsafat]]></category> <category><![CDATA[Kalkulus]]></category> <category><![CDATA[Konsep Belajar]]></category> <category><![CDATA[kuliah]]></category> <category><![CDATA[Matematika]]></category> <category><![CDATA[Proses Pembelajaran]]></category> <category><![CDATA[Sekolah]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/think/?p=19</guid> <description><![CDATA["...bahkan daun yang melambaipun dapat kita mengerti dengan Matematika...". Ada celah yang cukup membahayakan mengiringi kalimat tersebut. Celah tersebut memberikan jalan pemahaman yang melenceng dari kaidah, padahal si pelaku tidak merasakan hal itu.]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Suatu saat saya mengalami kejadian menarik. Saat itu saya selesai memberikan evaluasi matakuliah kepada kumpulan guru STM mengenai Kalkulus. Seperti biasa, saya memberikan kesempatan pada mereka untuk mempresentasikan jawaban evaluasi secara sendiri-sendiri.<br /> Pada satu kesempatan seorang peserta didik menyatakan suatu hasil penjumlahan seperti berikut:</p><blockquote><h2>0,1 + 0,9 = 0,10</h2></blockquote><p><em>What a mistake!</em><br /> <span id="more-19"></span>Pada satu sisi, terlihat bahwa orang tersebut berusaha memberikan jawaban terbaik. Tetapi disisi yang lain, ada sebuah kekurangan pemahaman dasar atas sebuah konsep mutlak bernama Matematika.<br /> Di dalam Matematika, ada sebuah kalimat yang mencoba memberikan gambaran tentang kehebatan Matematika, &#8220;&#8230;bahkan daun yang melambaipun dapat kita mengerti dengan Matematika&#8230;&#8221;. Kalimat tersebut sudah sangat jelas, tetapi ada celah yang -menurut saya- cukup membahayakan. Celah tersebut bukan pada Matematika, melainkan pada diri pelaku Matematika. Celah tersebut memberikan jalan pemahaman yang melenceng dari kaidah, padahal si pelaku tidak merasakan hal itu.<br /> Saya coba menyebut kejadian tersebut dengan nama &#8220;Konflik Matematika.&#8221; Konflik Matematika merupakan sebuah hasil dari pengejaran atas pemahaman terhadap konsep dasar Matematika yang setengah-setengah. Jadi cuplikan-cuplikan konsep yang mengendap di dalam otak tersebut saling mempengaruhi sehingga memunculkan &#8220;pemahaman baru&#8221; yang malah melenceng dari jalur konsep yang sesungguhnya.<br /> Contohnya bisa dilihat pada Guru STM tadi. Contoh lain seperti berikut: ada pertanyaan</p><blockquote><h3>&#8220;berapa hasil jika sebatang kayu dipatahkan menjadi 2?&#8221;</h3></blockquote><p>Jalur konsep Matematika yang benar bisa kita nyatakan dalam pecahan <strong>1/2</strong>. Tetapi jika terjadi Konflik Matematika, si penjawab malah akan diam lama memikirkan jawabannya. Hal itu adalah hasil dari dirinya sendiri karena bingung memilih jawaban : &#8220;<strong>1/2</strong>&#8221; atau &#8220;<strong>2</strong>.&#8221; Kedua jawaban tadi sebenarnya memang benar, karena memang benda yang yang terjadi berjumlah dua. Tetapi karena Konflik tadi, si penjawab tidak membandingkan kembali hasil &#8220;<strong>2</strong>&#8221; itu terhadap kondisi awal yaitu &#8220;<strong>1</strong>&#8220;, yang mana akan dinyatakan dalam bilangan &#8220;<strong>1/2</strong>.&#8221;<br /> Dari kejadian-kejadian tersebut, kiranya dapat memberikan gambaran mengenai Konflik Matematika yang -sangat mungkin- bisa terjadi dalam kehidupan kita. Dan pesan yang timbul adalah &#8220;<span class="pullquote">selalu pelajari sebuah konsep secara menyeluruh, jangan setengah-setengah</span>,&#8221; tentunya untuk menghindari Konflik Matematika tadi.</p><h5>Incoming search terms:</h5><p><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html" title="kehebatan matematika">kehebatan matematika</a> (10)&nbsp;<a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html" title="konflik konflik matematika">konflik konflik matematika</a> (1)&nbsp;</p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/kekuatan-rantai.html" rel="bookmark">Kekuatan Rantai</a></b><br />Rantai. Kita semua tahu apa itu rantai. Rantai adalah kesatuan dari bagian-bagian terpisah yang membentuk suatu ikatan berurutan/serial. ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/spiritual/cinta-bukan-hanya-soal-bunga.html" rel="bookmark">Tidak Selalu Harus Berwujud Bunga</a></b><br />Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html" rel="bookmark">Koalisi Kalang Kabut</a></b><br />APA mau dikata, kita sedang dipimpin oleh rezim yang terbelah setelah presiden dan wakilnya menyatakan siap berlaga dalam ...</div></li></ol></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/konflik-matematika.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>4</slash:comments> </item> </channel> </rss>
