<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>Column &#187; Birokrasi</title> <atom:link href="http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://www.mossackanme.web.id/column</link> <description>...a citizen journalism...</description> <lastBuildDate>Sun, 05 Jun 2011 13:20:41 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator> <xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /> <item><title>Nyanyi Sunyi Putri Tiri</title><link>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 26 Jun 2010 14:07:07 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Birokrasi]]></category> <category><![CDATA[Al Masih]]></category> <category><![CDATA[blogger]]></category> <category><![CDATA[demonstrasi]]></category> <category><![CDATA[FPI]]></category> <category><![CDATA[Google]]></category> <category><![CDATA[Halimah]]></category> <category><![CDATA[Isa]]></category> <category><![CDATA[Islam]]></category> <category><![CDATA[Kalamullah]]></category> <category><![CDATA[Khadijjah]]></category> <category><![CDATA[Mabes]]></category> <category><![CDATA[media]]></category> <category><![CDATA[menteri]]></category> <category><![CDATA[Muhammad]]></category> <category><![CDATA[Nabi]]></category> <category><![CDATA[Partai Keadilan Sejahtera]]></category> <category><![CDATA[pesohor]]></category> <category><![CDATA[petinggi]]></category> <category><![CDATA[POLRI]]></category> <category><![CDATA[porno]]></category> <category><![CDATA[RUU ITE]]></category> <category><![CDATA[Sembiring]]></category> <category><![CDATA[Siti]]></category> <category><![CDATA[Tifatul]]></category> <category><![CDATA[umat]]></category> <category><![CDATA[Waraqah bin Naufal]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/column/?p=170</guid> <description><![CDATA[Ketika Nabi Isa Al Masih Al Kalamullah yang dilecehkan, hanya segelintir media berani angkat bicara. Tak ada demonstrasi, tak ada ancaman amuk masa. Apakah karena yang dicela adalah Isa Al Masih sehingga tak ada yang peduli?]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bila Nabi Muhammad yang dinista, maka media massa dengan buas melahapnya. Para petinggi dan pesohor pun akan angkat bicara. Demonstrasi marak dimana-mana, masih ditambah potensi kerusuhan, entah itu skala kecil atau besar. Polisi pun tidak tinggal diam, bergegas menangkap si pelaku. Lalu diikuti pengadilan yang lagi-lagi mendapat sorotan media massa. Manusia-manusia yang sehari-hari tidak peduli pun menjadi pura-pura ikut peduli dan ikut panas.</p><p style="text-align: justify;">Tapi ketika Nabi Isa Al Masih Al Kalamullah yang dilecehkan, hanya segelintir media berani angkat bicara. Itu pun hanya satu hari. Bahkan suatu koran elektronik segera menghapus beritanya, berselang beberapa jam setelah berita tersebut diterbitkan. Tak ada demonstrasi, tak ada ancaman amuk masa. Muncul di halaman satu Kyai Google cuman terhitung sampai 3 hari. Mabes POLRI yang mengetahui berita itu diam seribu bahasa. FPI yang biasanya ganas dan bar-bar ketika ada sosok nabi yang dicelapun terdiam seperti mayat. Apakah karena yang dicela adalah Isa Al Masih sehingga tak ada yang peduli? Ataukah karena yang melecehkan adalah sesosok menteri sekaligus petinggi Partai Keadilan Sejahtera yang notabene adalah partai yang [seolah-olah] Islam sehingga semua terbungkam? Jauh semenjak sebelum negara ini merdeka, umat Al Masih pribumi memang di-anak tiri-kan di negeri ini, tapi sungguh mengerikan bila tindakan peng-&#8221;anak tiri&#8221;-an itu terlalu nampak menyolok seperti saat ini, bahkan jauh lebih menyolok mata dibanding jaman penjajahan.</p><p style="text-align: justify;"><span id="more-170"></span><span class="pullquote">Perilaku sex bintang film memang lumrah untuk di-<em>blow up</em> media masa. Namun, apalah itu bila dibandingkan dengan besarnya kesalahan Tifatul Sembiring yang menghujat Isa Al Masih dengan memperbandingkan sosok mulia itu dengan pemeran utama film porno?</span> Sok Pahlawan dengan berusaha membungkam mulut para blogger dan forumer dengan RUU ITE, sementara yang harusnya dibungkam justru mulutnya sendiri yang tak kenal rasa hormat kepada Isa Al Masih yang dilantik oleh Allah menjadi Raja Diraja. Kiranya Allah menampar &#8220;mulut harimau&#8221; Tifatul Sembiring.</p><p style="text-align: justify;">Sungguh memuakkan menonton &#8220;binatang&#8221; televisi yang dengan buas hendak melahap perilaku seks, tapi tidak doyan melahap perilaku pelecehan yang lebih parah. Apakah itu karena pelaku pelecehan nabi itu menteri yang berkuasa atas media masa sehingga televisi jadi enggan untuk mem-<em>blow-up</em>-nya? Ataukah karena media punya nafsu sex yang besar, lebih dari penghargaannya kepada Isa Al Masih?</p><p><img style="margin-left:-16px;" src="http://www.algearithm.web.id/illustration/Agama-Birokrasi-Politik.gif" alt="" width="530" /></p><p style="text-align: justify;">Apakah itu yang disebut sebagai keadilan yang diperjuangkan oleh partainya Tifatul Sembiring yang bernama Keadilan? Partai yang [konon] memperjuangkan keadilan tapi nampak jelas tidak memperjuangkan keadilan ketika bos besarnya yang duduk di dewan syuro justru pelaku ketidakadilan itu sendiri. Kalau begitu, ada baiknya bila partai tersebut berganti nama menjadi Partai Boro-Boro Adil saja.</p><p style="text-align: justify;">Beranikah kita mempercayakan masa depan negeri dan bangsa ini kepada manusia macam Tifatul Sembiring ini? Tidak takutkah kita dengan standar ganda yang dipakainya? Tidak takutlah kita bila suatu saat mereka akan mengkhianati dan menerkam kita seperti rubah menerkam ayam hutam? Relakah kita bila kelak, ketika dia makin berkuasa, maka dia akan semakin getol melecehkan Isa Al Masih junjungan kita dan bahkan mungkin pula nabi-nabi lain?</p><p style="text-align: justify;">Umat nabi Muhammad yang sejati tidak akan mungkin melakukan perbandingan yang tidak senonoh semacam itu, karena nabi Muhammad tidak pernah memperbandingkan Isa Al Masih dengan sesuatu yang tidak sepantasnya. Nabi Muhammad juga berlaku pelindung terhadap umat Al Masih, terlebih istrinya (Siti Khadijjah), pamannya (Waraqah bin Naufal), dan ibu angkatnya (Halimah) adalah umat Al Masih yang saleh. Bahkan Waraqah bin Naufal adalah pemimpin umat Al Masih mekah dan yang menikahkan nabi Muhammad dengan Siti Khadijjah.</p><p style="text-align: justify;">Berdasarkan fakta sejarah ini, maka kita dapat menganggap bahwa Tifatul Sembiring bukan umat sejati Nabi Muhammad, dengan kata lain, dia adalah &#8220;barang palsu&#8221;, &#8220;produk palsu&#8221;, atau &#8220;produk gagal&#8221; . Bila dia adalah &#8220;barang palsu&#8221;, mengapa &#8220;barang palsu&#8221; bisa menjadi anggota Dewan Syuro suatu partai yang katanya partai agamis? Mengapa pula partai itu diam saja ketika nabi Isa Al Masih yang merupakan satu dari 25 nabi dilecehkannya? Apakah itu berarti partai tersebut permisif terhadap tindakan pelecehan kepada nabi asalkan nabi yang dilecehkan itu bukan nabi Muhammad? Ataukah mereka sama palsunya? Untuk membuktikan bahwa partai itu bukan partai yang terdiri dari &#8220;barang palsu&#8221; sungguh mudah: pecat Tifatul Sembiring dari jabatannya secara tidak hormat! Tindakan ini akan meyakinkan umat bahwa partai tersebut tidak mentolerir &#8220;barang palsu&#8221; di dalam jajaran pimpinannya dan akan kembali memulihkan citra partai yang telah tercabik dan terkoyak akibat perilaku oknumnya itu.</p><p style="text-align: right;"><span style="font-size: 70%;">LingkarStudi</span></p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/koalisi-kalang-kabut.html" rel="bookmark">Koalisi Kalang Kabut</a></b><br />APA mau dikata, kita sedang dipimpin oleh rezim yang terbelah setelah presiden dan wakilnya menyatakan siap berlaga dalam ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/politik/politik-secawan-air-raksa.html" rel="bookmark">Politik Secawan Air Raksa</a></b><br />PARTAI-partai itu bergerak nyaris tanpa pola. Sebentar ke utara, sebentar ke selatan, lompat ke timur—atau menikung ke barat ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" rel="bookmark">Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</a></b><br />Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, William of Malmesbury, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah ...</div></li></ol></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/nyanyi-sunyi-putri-tiri.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Indonesia, Menuju Orde terBaru</title><link>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html</link> <comments>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 05 Dec 2008 08:52:32 +0000</pubDate> <dc:creator>MossackAnme™</dc:creator> <category><![CDATA[Birokrasi]]></category> <category><![CDATA[Ideologi]]></category> <category><![CDATA[Nasionalisme]]></category> <category><![CDATA[Orde Baru]]></category> <category><![CDATA[Pemilu]]></category> <category><![CDATA[Politik]]></category> <category><![CDATA[Reformasi]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.mossackanme.web.id/opinion/?p=20</guid> <description><![CDATA[Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang mengaku intelek semenjak dikumandangkan sebagai jargon perubahan secara nasional sekitar 10 tahun yang lalu. Kata itu menjadi lawan tanding sepadan dan akhirnya menang melawan stabilitas nasional ala Raja Harta Yang Baik pada jaman yang disebut Orde Baru. [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Reformasi, kata itu masih sering terdengar di telinga kita bahkan -relatif- sudah tertanam dalam diri anak muda yang mengaku intelek semenjak dikumandangkan sebagai jargon perubahan secara nasional sekitar 10 tahun yang lalu. Kata itu menjadi lawan tanding sepadan dan akhirnya menang melawan stabilitas nasional ala Raja Harta Yang Baik pada jaman yang disebut Orde Baru. Jaman tersebut tetap dinamai dan dikenal dengan nama &#8220;Baru&#8221; walau sudah ada di negara ini selama 32 tahun, menggantung dari atas untuk mengawasi dan mengakar di bawah untuk mempengaruhi.</p><p>Setelah 10 tahun terbang dari mulut satu ke telinga yang lain, membangkitkan semangat nasionalis yang ironisnya dijunjung tinggi ketika Orde Baru merebut tampuk tanda tangan penyerahan kekuasaan, reformasi lambat laun menjadi sebuah cara ampuh untuk dapat disorot oleh media massa dan mendaki tangga berjalan yang dipercepat ke dalam komunitas <em>elite</em> di negeri ini yang ternyata masih <em>e-lite</em>. Orang-orang muda yang mengaku intelek yang membawa semangat reformasi secara pelan tapi pasti (Ya! Pasti!) berubah menjadi singa-singa buas yang berusaha meraih puncak kekuasaan dan mengubah negara ini sesuai keinginan mereka.</p><p><span id="more-20"></span>&#8220;Sesuai keinginan mereka&#8221;? Ya! Sesuai keinginan mereka dan diperparah dengan para penyandang dana dan penyandang koneksi yang juga &#8220;menitipkan&#8221; jargon pribadi ke dalam suasana perang yang dipoles menjadi &#8220;reformasi,&#8221; &#8220;perubahan.&#8221; Ada yang menyebarkan orang-orang yang disegani -walau sebenarnya idiot- ke seluruh Indonesia untuk mempengaruhi setiap &#8220;lawan&#8221; politik, atau lebih tepatnya lawan ideologi, yang berpotensi merusak rencana mereka pada waktu &#8220;4 November&#8221; <em>made in Indonesia</em>. Ada juga yang menggunakan media visual sebagai tempat ampuh mendoktrin para pemuda-pemudi culun yang tidak tahu apa-apa menjadi pendukung setia yang membabi butabisutuli.</p><p>Melihat kenyataan (kenyataan! bukan perasaan!) yang ternyata mengingkari semangat &#8220;change we can believe in&#8221; seorang keturunan negro dari negara yang dibenci oleh sebagian besar penduduk Indonesia, semangat &#8220;reformasi&#8221; yang sesungguhnya, negara ini sepertinya sedang dalam perjalanan menuju sebuah masa, sebuah jaman baru yang bisa-bisa cocok untuk dinamai &#8220;Orde terBaru.&#8221;</p><p>Masihkah ada dalam ingatan Anda ketika ada saudara Anda tiba-tiba menghilang karena membawa jargon &#8220;reformasi&#8221;? Bagaimana kalau ternyata &#8220;Orde terBaru&#8221; akan mengulanginya lagi ketika menemui seseorang atau sekumpulan orang yang berseberangan ideologi? Kejadian hilangnya seorang aktivis lingkungan di kota Bandung mungkin bisa menjadi contoh kongkrit.</p><p>Masihkah dapat digali di endapan ingatan Anda ketika lembaga-lembaga negara dibentuk sebagai kepanjangan dari sulur penguasa untuk mempengaruhi masyarakat dan melibas semua &#8220;gangguan&#8221; yang berpotensi mengusik kenyamanan penguasa? Bagaimana kalau ternyata &#8220;Orde terBaru&#8221; akan membentuk lembaga-lembaga yang lebih membela kepentingan penguasa, kepentingan yang banyak, dan menyumpal mulut yang lebih lemah?</p><p>Atau yang lain, seperti disebutkan di bagian atas, masihkah teringat ketika keadilan menjadi simbol angkuh untuk menunjung tinggi stabilitas nasional, yang membawa Indonesia menuju banyak perpecahan terselubung yang akhirnya membuat kita terpaksa melepas wilayah pulau Timor bagian Timur? Lambat tapi pasti kenyataan mulai memperlihatkan masa perpecahan terselubung di dalam lapisan masyarakat yang akan ditutup-tutupi dengan jargon stabilitas nasional ala &#8220;Orde terBaru.&#8221;</p><p>Waktu corat-coret kertas mahal akan datang, menentukan perjalanan negara ini. Mau dibawa kemana, mau dijadikan seperti apa. <span class="pullquote">Jika memang peduli pada perut sendiri dan pada orang lain, marilah berpikir cerdas. Benar-benar cerdas untuk memilah benar dan salah tanpa salah kaprah terhadap baik dan buruk. Negara ini butuh kita</span>, karena rakyat itu adalah salah satu dari 3 elemen utama agar sebuah hal bisa disebut negara. Jika memang Orde Baru sudah terbukti memiliki lebih banyak momen kehancuran daripada keberhasilan, apakah &#8220;Orde terBaru&#8221; akan benar-benar tercipta?</p><p><strong>Kepastian masih bisa diubah!</strong></p><div id="seo_alrp_related"><h4>Another writings:</h4><ol><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/hukum/cicak-takkan-pernah-punah-menjadi-tanah.html" rel="bookmark">Cicak, Takkan Pernah Punah Menjadi Tanah</a></b><br />Siang tadi kita melihat dengan telinga telanjang bagaimana fakta menelanjangi para penjaganya, bagaimana kredibilitas dipertaruhkan dan coba dipertahankan ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/peristiwa/enam-lima-pensiun-generasi-pertama.html" rel="bookmark">Enam Lima, Pensiun Generasi Pertama</a></b><br />Indonesia tidak sehat, namun Indonesia masih dan akan terus mampu ke masa depan melihat. Indonesia tidak berjalan tegak, ...</div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><b><a href="http://www.mossackanme.web.id/column/filsafat/vox-populi-vox-dei-sebuah-ketidaksempurnaan-pemahaman.html" rel="bookmark">Vox populi, vox Dei : Sebuah Ketidaksempurnaan Pemahaman</a></b><br />Frase tersebut disebarluaskan oleh seorang sejarawan Inggris, William of Malmesbury, pada abad ke-12. Jejak sebelumnya ditemukan pada sebuah ...</div></li></ol></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.mossackanme.web.id/column/birokrasi/indonesia-menuju-orde-terbaru.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> </channel> </rss>
