Selamat Datang

Hidup itu abstrak, hidup itu nyata, semuanya merupakan kesatuan jiwa bagi terbentuknya alam semesta. Banyak hal dalam kehidupan dan kematian yang disajikan oleh Sang Ilmuwan dalam bentuk abstrak. Mereka diatur untuk menunggu pemahaman kita terhadap sesuatu yang mereka jaga.

Dalam hidup, terbentuk suatu hubungan neuron yang saling kait-mengait. Informasi dilakukan menggunakan media transmitter canggih yang disebut frekuensi, frekuensi arus superlemah yang tak kasat mata. Dengan tak kasat mata, Beliau membentuk mekanisme Mahabesar yang saling tumpuk bertumpuk tetapi sekaligus berjajar. Ayah dengan Anak, Ibu dengan Ayah, Anak dengan Ibu, keluarga dengan lingkungan, tetangga dengan kerabat, semuanya terkait. Rasakan, rasakan, rasakan setiap detik Anda merupakan suatu stimulan bagi detik yang sama untuk orang lain. Setiap kejadian Anda merupakan pijakan bagi orang lain di detik yang sama dan selanjutnya. Sebaliknya, rasakan hubungan Anda dengan orang lain. Rasakan, rasakan, rasakan bahwa setiap gerakan orang lain merupakan stimulan bagi reaksi otak Anda untuk berpikir.

Bagaimana Anda mengetahui “sesuatu” itu bernama “kaca” bila “sesuatu” itu tidak memberikan informasi bagi otak kita sampai kita bisa berbicara bahwa “sesuatu” itu adalah “benda” dan bernama “kaca”?

Mungkin sulit ketika kita mulai berusaha memahami hal-hal tak kasat mata yang sering masuk menjadi data yang butuh untuk diolah dalam keseluruhan mekanisme diri kita. Tetapi usaha bersama, ulangi, mekanisme saling tumpuk-menumpuk dan sejajar antara Anda dan saya, saya dan orang lain, Anda dan orang lain, itulah yang akan membawa saya, bukan, ulangi, kita, menuju Hubungan Maha Komplek antar manusia, antar lingkungan, antar perbedaan, yang hanya bisa dibangun oleh Sang Maha Agung. Proses pemahaman, pengkajian yang mendalam akan sebuah hal, itulah yang diangkat dalam Kolom ini. Dengan mengkaji sebuah konotasi, dan berusaha menyajikan denotasi.


TUHAN itu Ada Apa Ada-NYA

Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku percaya ada “AKU” yang lebih besar dari diriku. Aku percaya TUHAN itu ada, karena aku melihat ketidakpastian dunia yang merupakan kenyataan akan apa yang diberikan-NYA pada manusia. Aku peduli pada TUHAN, bukan karena sekedar memanggil-NYA memakai HURUF BESAR, dan bukan karena aku meneriakkan nama-NYA, melainkan karena Diri-NYA adalah


Nyanyi Sunyi Putri Tiri

Ketika Nabi Isa Al Masih Al Kalamullah yang dilecehkan, hanya segelintir media berani angkat bicara. Tak ada demonstrasi, tak ada ancaman amuk masa. Apakah karena yang dicela adalah Isa Al Masih sehingga tak ada yang peduli?


Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Sang Guru Bangsa

Turunkan bendera itu! Naikkan bendera itu! Jangan, jangan sampai ke ujung yang lain! Di tengah, ya, di tengah saja! Kibarkan sampai hari ketujuh! Kibarkan demi Sang Guru Bangsa yang baru saja pergi! Gus Dur, Guru Bangsa yang lebih besar dari SBY sekalipun! Yang membela ketika yang lain mencela, yang bicara ketika yang lain diam. Yang