Pagi ini bangun dengan perasaan setengah segar, mata masih berkantung, jam 5 tepat beberapa saat setelah soulmate yang memang selalu membangunkanku setiap pagi.
Perasaan yang pertama keluar dari lubuk pakam, kok diriku langsung liat monitor ya? Laptop GoogleLabs kesayangan? layar 15,4 inchi yang tak pernah membuat mataku perih walau pernah 9 jam tanpa beranjak dari depan laptop.
Ternyata, dengan menekuk leher dan menarik dagu, kulihat sebentuk fenomena yang sekejab membuatku takjub! Ada pulau di atas kiborku! Dengan bentuk yang mirip pulau Bali, bentukan itu berjuang melewati segala celah yang ditimbulkan oleh para tuts yang tak pernah bisa bersatu.
Setelah mata ini sedikit membiasakan diri, ternyata pulau itu adalah sekumpulan fluida yang melebar -mungkin- karena pengaruh jaman. Dan tanpa sadar kuseka mulutku dengan tissue yang belum pernah habis sejak orangtuaku datang ke gubuk ini. Eh, kok rasanya kenal dengan fluida itu? Wew, rasanya akrab?
Teteeet, whoaaaa, itu liurku….whuaaaa…..
Ternyata semalam setelah begadang sampai jam 3 pagi daku ketiduran dengan kepala diatas kibor! Monitor yang standby langsung kubangunkan, ternyata disana sudah berderet sejuta lebih huruf-huruf tak keruan yang disebabkan beban kepalaku pada para tuts!
Akhirnya, dengan sedikit senyum-senyum sendiri tanpa kawatir ada yang mengejek, tissue tadi kupakai kembali untuk menyeka pulau itu, pulau yang kubuat dengan susah payah tanpa kusadari. Dengan malas kucabut colokannya, kuseret dia keluar kamar dan kupaksa untuk mengeluarkan segala sisa yang menyelip diantara perpecahan para tuts. Kubakar dia dengan segala kemarahan matahari pagi yang masih ramah sampai 2 jam.
Walau begitu, aku tetap perlu berkata, “kibor, maafkan aku karena telah menyiksamu dengan air liurku.”
Wekekekek…


